5 Bahan Utama untuk Inovasi Perusahaan

Waka Blog

Editorial

Setiap perusahaan membutuhkan inovasi untuk dapat tetap bertahan. Namun seiring pertumbuhan menjadi lebih besar, ide baru dan proses yang gesit cenderung berkurang. Untuk menggunakan dana dalam kesempatan inovasi, perusahaan perlu memaksimalkan pemanfaatan aset mereka yang tersedia secara cepat dan efektif. Melakukan hal tersebut mengharuskan manajemen senior menerima tanggung jawab untuk berorientasi pada transformasi dan menciptakan kondisi yang memungkinkan pimpinan yang penuh inovasi untuk berkembang.

Berikut ini lima bahan penting yang perlu digunakan oleh manajemen senior untuk membantu projek inovasi mereka sukses. Ketika diimplementasikan bersama-sama, lima bahan ini dapat berkombinasi untuk mempromosikan inovasi perusahaan yang bernilai, sekalipun pada kondisi yang menghambat kesuksesan pemimpin inovasi dalam kebanyakan perusahaan besar.

1. Bebaskan pemimpin inovasi dari persyaratan khusus.

Rapat perencanaan strategis, riset pasar yang komprehensif, mendetailkan roadmap produk, prakiraan kuartal, dan rencana bisnis tiga tahun yang terkenal buruk, semua yang ada dalam dunia perusahaan, aktivitas-aktivitas ini dan indikator-indikator performa utama (KPI) yang terkait, dapat dengan berat menghambat inovasi.

Manajemen senior perlu membebaskan pemimpin inovasi mereka dari banyak persyaratan/kebutuhan bisnis yang biasa dan mengizinkan mereka membentuk metodologi mereka sendiri, lebih cocok untuk pelaksanaan ide dan iterasi yang cepat. Menurut definisi, ide inovatif belum mengetahui secara pasti seperti apa produk atau pasar pada setengah tahun yang akan datang, lupakan tiga tahun yang lain.

2. Beri penghargaan pada resiko dan jangan menghukum kesalahan.

Membangun jalan inovasi internal untuk menghasilkan produk komersial yang sukses dan penghasilan yang berkelanjutan semua adalah tentang langkah-langkah kecil, eksperimen, dan iterasi. Setiap eksperimen menyediakan wawasan baru tentang fitur-fitur produk yang paling bernilai (MVP) atau cara yang benar untuk masuk ke dalam pasar. Setiap eksperimen menghadapi ketidakpastian dan mengandung resiko. Satu-satunya orang yang tidak membuat kesalahan adalah orang yang tidak mengambil resiko apa pun.

Perusahaan besar cenderung tidak memiliki toleransi pada kesalahan. Mempromosikan inovasi berarti mengizinkan pemimpin inovasi untuk bereksperimen, mengambil kesempatan dan, ya, membuat kesalahan. Ketika berinovasi, kesalahan bukan kegagalan — hal tersebut adalah sumber informasi penting tentang bagaimana untuk menjadi lebih baik. Manajemen korporat harus mengakomodir kegagalan diantara para inovator dan mungkin bahkan memberi penghargaan. Dalam perjalanan yang panjang, ini satu-satunya jalur untuk membangun program inovasi yang sukses ke dalam lini bisnis baru yang berkelanjutan.

3. Dukung dan lindungi dari dalam.

Pastikan bahwa pemimpin inovasi adalah orang-orang yang relatif tidak kenal takut dan kuat yang tahu bagaimana menyelesaikan sesuatu (bahkan ketika tidak ada persetujuan dan dapat mengecewakan pihak lain), dan menyandingkan pemimpin program inovasi dengan sebuah dukungan tingkat eksekutif yang dapat turun tangan dan memuluskan segala hal dengan segala pihak — mereka yang membuat aliansi, yang menuntut persetujuan bersama (konsensus), dan yang berusaha keras memuaskan bos mereka dan pihak lainnya dalam organisasi.

Dukungan eksekutif ini harus mempunyai kekuatan untuk melindungi pemimpin inovasi dengan menyediakan kepada program inovasi sebuah label “kepentingan perusahaan”, bangun sebuah “pulau kebebasan” dan coba untuk mengatasi konflik sebelum hal tersebut muncul.

4. Buka akses ke aset-aset perusahaan.

Perusahaan mempunyai aset-aset yang tidak ada perusahaan rintisan (startup) dapat menandinginya, mencakup jam kerja yang panjang untuk informasi tentang suatu keahlian yang terakumulasi, teknologi, merek, hubungan-hubungan, dan jalur menuju pasar. Properti intelektual ini adalah sebuah tambang emas untuk program inovasi perusahaan.

Sayangnya, menyiapkan aset-aset perusahaan cenderung terkotak-kotak, terkadang dengan beradu dengan pemilik yang berhati-hati pada teritori personal mereka dan ragu-ragu untuk secara bebas berbagi dengan unit lain dalam organisasi. Hal ini dapat menjadi rintangan utama untuk program inovasi yang sukses.

Perusahaan bukan demokrasi, manajemen senior harus memiliki peran penting dalam menyeimbangkan kebutuhan yang disahkan terhadap aset-aset pemilik dan terhadap pemimpin inovasi. Mereka harus menyampaikan kepada manajer yang terkait tentang prioritas yang diberikan kepada program inovasi dan bahkan menyediakan celah yang memungkinkan pemimpin inovasi mengalahkan birokrasi tertentu yang jika tidak akan menghalangi akses mereka ke aset-aset kunci.

5. Secara cepat bangun jalur ke pelanggan.

Pemimpin inovasi harus berjuang untuk secara cepat mendapatkan pelanggan pertama mereka, yang akan menyediakan nilai yang tidak tergantikan — feedback produk, validasi model bisnis, dan pemasukan awal.

Namun, akses ke pelanggan perusahaan yang ada seringnya ditutup oleh pihak penjualan. Tim penjualan kesulitan untuk mencapai kuota mereka sendiri, dengan sebuah fokus pada hasil jangka pendek yang mungkin tampak membahayakan dengan adanya orang lain yang mencoba berjualan kepada pelanggan mereka.

Lagi-lagi, manajemen senior adalah solusinya. Selain menekankan pentingnya kerjasama, manajemen perlu mempertimbangkan untuk secara parsial menghubungkan komisi penjualan dengan KPI pemasukan dari program inovasi.

Jika Anda menyukai artikel ini, silahkan bagikan ke rekan Anda.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *